Sabtu, 14 September 2013

PHOBIA DALAM BUKU HARIAN SAYA

PHOBIA DALAM BUKU HARIAN SAYA



By Andy Dwi Prastya

Hari ini minggu malam semua seperti biasa, ada cahaya bintang dan bulan di tengah gelapnya malam. Suasana juga seperti biasa, aku berada di rumah sederhana ini. (Biasalah kalo kembali ke kontrakan Malang biasanya senin pagi, sekalian masuk kuliah..). Tapi satu hal yang membuatku malam ini begitu beda, di kepalaku ada ingatan tentang hal-hal yang telah saya pelajari 2 tahun terakhir.
Malam ini jam sudah menunjukkan pukul 23.15 dan suasana rumah sudah sangat hening. Akhirnya aku buka laptop dan ingin berbagi tentang pelajaran yang saya dapat 2 tahun terakhir (meskipun aku gak tahu adakah orang yang membaca artikel ini).

Baiklah saya mulai saja bercerita....

Saya adalah anak terakhiri dari dua bersaudara. Ayah seorang PNS yang bergelut di bidang perpajakan, sedangkan kakak juga tidak jauh berbeda.

Ayah boleh dibilang phobia terhadap darah dan Rumah Sakit, kalau ada pepatah “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya ” itu adalah benar. Buktinya kakak takut terhadap darah (jangan darah deh, jarum suntik aja lo takut..). Kalo kakak aja takut apalagi aku. Karena karakter kakak dan aku gak jauh beda. Namanya juga bersaudara!

Bahkan ingat sekali waktu SMA, saat mengalami kecelakaan dan harus menjalani penjahitan dan pemasangan gips di kaki kiri. Sangat menyakitkan, bahkan sempat terfikir di benak bahwa tempat paling menakutkan adalah Rumah Sakit dan aku tidak akan mau bekerja di tempat seperti ini. Terlihat darah mengucur, cairan NS, jarum suntik, gunting, benang dan alat-alat yang sangat mengerikan di dekatku.
Aku semakin takut saat melihat alat2 dimainkan oleh perawat dan didekatkan ke kakiku.

Dua tahun kemudian, aku masuk di DIII Keperawatan Malang, Poltekkes kemenkes Malang atas kemauan sendiri. Luar biasa bukan?
Padahal aku juga lolos SNMPTN di PTN terkemuka di Malang. Jangan tanya apa motivasi atau alasanku memilih kuliah di tempat ini, karena pasti panjang ceritanya.
Namaku sudah tercetak di absensi Politeknik ini dan secara otomatis menjadi bagian dari keluarga besar Poltekkes Kemenkes Malang. Aku tahu kelak aku jadi perawat yang setiap akan berhadapan hal-hal yang belum pernah terbayangkan di kepala.

Tanpa terasa dua tahun sudah kuliah, mulai teori KDM sampai Medikal Bedah sudah terjejal di kelas. Tak hanya itu praktek klinis pun sudah kami jalani (9 minggu di semester III dan 9 Minggu di semester IV). Hampir lupa, kalian harus tanya bagaimana dengan pobhia ku tadi”?....
Aku akan menampilkan beberapa fakta tentang perkembangan phobia (rasa takut) yang ada pada diri ini, yaitu :

1. Saat dosen menampilkan video tentang pengambilan darah dan pemasangan infus, wow.... terlihat sangat menyakitkan.
Faktanya : saat mencoba labskill di kampus juga tidak semenakutkan yang di video. Bahkan karena pembuluh darahku besar-besar dan terlihat jelas dijadikan praktek teman-teman yang gagal di labskill pertama..Akupun juga sangat menikmatinya. Bahkan saat praktek klinik kalau ada tindakan pemasangan infus ataupun pengambilan darah buru-buru tak minta. Saat di ruang ibu nifas di salah satu RS, aku melakukan 6 pengambilan darah dari 6 pasien yang berbeda dalam satu kali dinas...

2. Saat materi keperawatan jiwa, dosen menampilkan foto-foto pasien dengan gangguan jiwa yang mau melakukan senam pagi (arsip pribadi). Aku membayangkan seandainya di tengah-tengah orang dengan gangguan jiwa tersebut pasti sangat menakutkan.

Faktanya : saat praktek kep jiwa di RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat, Lawang. Pertama kali datang ke asrama, sangat mengerikan berada di tengah-tengah pasien gangguan jiwa, ada yang mengucapkan mereka kesana-kemari tidak karuan. Dinas pertama masih terdapat penolakan dalam diri saya, akan tetapi setelah lebih dekat dan berbincang-bincang dengan mereka. Ternyata seru dan pandangan saya berubah 180 derajat. Akhirnya, 2 minggu praktek terasa sangat kurang, karena dengan adanya mereka, saya bisa tertawa dan bahagia setiap hari.

3. Saat melihat video kecelakaan yang anggota tubuhnya sampai hancur ataupun lecet itu mengerikan, tetapi saat saya praktek di Ruang Tindakan, Puskesmas, beda. Ada pasien yang baru mengalami kecelakaan dari kendaraan bermotor dengan mulut hancur dan gigi lepas serta beberapa lecet di bbrapa bagian. Saat pasien datang dengan diangkat oleh beberapa relawan, sangat mengerikan dengan darah segar d tubunnya. Tetapi saya bilang dalam hati kecil saya, saya adalah perawat yang dipercaya oleh keluarga pasien. Akhirnya setelah konsultasi dengan pegawai puskesmas mengenai tindakan dan pengobatan yang akan saya lakukan, oke, saya ambil handgloves dan melakukan perawatan luka pada pasien tersebut dan ternyata tidak se-menakutkan yang terlihat.

4. Saat materi keperawatan maternitas, setelah dibekali protap Asuhan Persalinan Normal dan kami ditarget minimal 1x ditarget melakukan APN. Iseng2 lihat APN di youtube, wahh.... menakutkan, dari lubang sekecil itu bisa keluar janinnya, apalagi darah dan lokea2 yang merah segar mengalir..
Faktanya : setelah 1 minggu praktek di Kamar Bersalin, RSUD K. Saya hanya melihat saja bidan melakukan APN, bahkan ada bberapa persalinan sulit, saya hanya sebatas membantu mepersiapkan alat dan membersihkan darah bekas hecting perineum.

Saat ini saya seperti berada di puncak rasa takut (phobia), seperti putus asa dan tidak berani menolong persalinan dan menghadapi lochea itu (Apakah 2 tahun saya belajar di kampus, hilang karena saya tidak berani menolong persalinan).
Pekan kedua saat praktek klinis di puskesmas, saya memberanikan diri menolong persalinan di bawah bimbingan. Hasilnya bisa dan tanpa saya sadari begitu banyak darah yang keluar, tidak ada perasaan jijik sedikitpun di kepala saya.. Dan saat ada persalinan-persalinan berikutnya saya selalu berpartisipasi dalam melakukan APN...

Kesimpulan :
Setakut-takutnya (Phobia) terhadap sesuatu hal, itu karena tidak pernah mencoba lebih dekat terhadap hal tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar